Jumat, 16 Maret 2012

"Mata Tertutup" Dengan "Mata Terbuka"

Satu lagi karya terbaru sineas Indonesia yang mengangkat fokus agama dari sudut yang terbilang frontal. Film bertema gerakan fundamentalis islam ini mengambil judul 'Mata Tertutup' sesuai alur cerita di dalamnya yang banyak menampilkan adegan perekrutan anggota gerakan dengan menutup mata 'korban' untuk dibawa ke tempat doktrinasi.

Secara keseluruhan ada pemisahan cerita yang coba dihadirkan dalam film. Yang pertama diceritakan sosok mahasiswi Fakultas Kedokteran bernama Aini yang kabur dari rumah karena terlibat dalam NII. Kemudian Rima (Eka Nusa Pertiwi) seorang aktifis perempuan yang juga ingin bergabung dengan gerakan serupa. Yang terakhir adalah Jabir (M. Dinu Imansyah) santri sebuah ponpes yang terpaksa hengkang karena sekian lama menunggak iuran.

Tentu saja menonton film yang satu ini benar-benar harus dilakukan dengan 'mata terbuka'. Meskipun terbilang film sederhana dan minim nilai tersirat, tetapi pesan yang disampaikan cukup penting untuk didiskusikan lebih lanjut. Terutama dibagian akhir film ketika ditampilkan beberapa komentar dari tokoh agama terkait radikalisme yang terjadi di negara kita. Pesan yang dominan disampirkan adalah bagaimana generasi muda seharusnya tidak memandang situasi negara dari sisi hitam dan putih saja. Kekecewaan akan situasi hidup seharusnya bukan menjadi alasan kaum muda untuk mencari pelarian diluar akal sehat yang dimiliki.

Disini sangat menarik karena dalam film juga ditampilkan bagaimana Jabir sebelum menjadi pengantin (bom bunuh diri) sempat berujar bahwa pilihan itu dijalani karena tak ada hal lain yang bisa ia lakukan. Selain itu pada beberapa dialog juga terselip kritik atas kinerja pemerintah seperti kerawanan di angkot dan sulitnya untuk mencari nafkah di negara sekapitalis Indonesia dewasa ini.

Poin-poin diataslah yang seharusnya lebih diblow up lagi oleh Garin dalam filmnya. Sayangnya film terkesan kurang menekankan isu tersebut namun lebih terpaku pada kritik terhadap gerakan fundamentalime itu sendiri. Padahal tidak mungkin dinafikan jika radikalisme islam saat ini cenderung merupakan dampak daripada sebuah penyebab permasalahan-permasalahan yang terjadi di masyarakat. Dengan demikian jalan cerita mungkin akan lebih mengena karena tidak terlihat hanya sebagai wahana kritik gerakan fundamentalis semata namun lebih menyentuh ke akar permasalahan hingga mungkin lebih mengedukasi bagi para penikmatnya. 

Yang terakhir saya sendiri masih menyimpan pertanyaan besar dari film ini. Saya bingung dan sering tertipu dengan wajah Rima dan Aini, kenapa wajah mereka mirip banget. Apa mereka kembar??? --'

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar