Minggu, 04 Maret 2012

KEUMALA: CAHAYA YANG DITINGGALKAN CAHAYA

"Aku ditinggalkan Cahaya..."
Ironi, itulah yang coba dihadirkan dalam kalimat tersebut. Terutama karena keluar dari bibir seorang seorang gadis buta bernama Keumala. Keumala sendiri merupakan kata yang berasal dari Bahasa Aceh yang berarti cahaya. Keumala: Cahaya yang ditinggalkan cahaya.
Itulah cuplikan kalimat puitis yang ada dalam Drama Romantis produksi Indirama Films ini. Untuk menggambarkan kebutaan saja, harus menggunakan kalimat yang memutar 'ditinggalkan cahaya'. Wajar bila penonton mungkin akan meninggalkan bioskop di menit-menit pertama film dimulai, helloooo, ini 2012 kan! 

Tapi jangan buru-buru, eman-eman juga tiket yang sudah mahal-mahal terbeli, tengoklah sisi lain yang lebih positif dari film ini, satu kata untuk menggambarkannya: INDAH! Wajar saja, karena ternyata film yang diluncurkan awal Maret ini adalah racikan sang sutradara yang selama ini lebih dikenal berpengalaman sebagai pinata gambar, Andhy Pulung

Jadi jangan heran bila selama durasi mata kita akan dimanjakan oleh sudut-sudut yang spesial dalam tiap scenenya. Terutama karena film ini juga memilih lokasi syuting yang luar biasa. 

Sedikitnya ada dua setting tempat yang dominan dalam cerita, yang pertama adalah sebuah kapal penyeberangan Jakarta-Medan KMP Kelud, ya, syuting dilakukan diatas kapal. Sekilas kita akan mengalami dejavu seperti saat menonton Titanic yang bersetting serupa. Bedanya tentu saja alat transportasi tersebut tidaklah seeksklusif Kapal pesiar yang ditumpangi Jack dan Rose mengarungi cinta satu malamnya percintaan tragisnya. Tapi di kapal tersebut, sama halnya dg Titanic, realita situasi kapal juga dihadirkan dimana penumpang seperti dikotak-kotakkan di masing-masing kelas. Ada yang umpek-umpekan di deg, dan ada yang ayem di kamarnya masing-masing dengan membayar harga lebih tinggi tentunya.

  • Pertemuan yang klise
Meskipun cerita dibuka dengan sampainya Keumala (Nadia Vega) ke rumahnya di Sabang yang sudah 8 tahun lamanya tidak ia kunjungi, namun cerita awal film bermula di kapal. Jadi bisa dikatakan alurnya maju-mundur. Di kapal itulah Keumala yang tengah melukis panorama favoritnya 'langit senja' bertemu dengan Abimana Aryasatya, sosok new comer dalam dunia perfilm'an yang juga memerankan Sukmo dalam Republik Twitter. Dalam Keumala, Arya berperan sebagai Langit seorang fotografer yang senang juga gemar mengabadikan 'langit senja'. Cerita klise dalam film percintaan pun terjadi disini dimana Keumala dan Langit bentrok karena Keumala merasa ketenangannya diusik oleh kehadiran Langit di salah satu pojok kapal tersebut kisah mereka dimulai. 

Sosok Keumala yang misterius dan ketus memancing ketertarikan lebih jauh dalam diri Langit. Ia merasa sangat sulit mendekati wanita itu hingga akhirnya datang seorang gadis kecil bernama Inong (Shilla Vaqa Ismi) yang meminta bantuan Langit untuk memperbaiki fotonya dengan sang ibu yang telah rusak. Tentu saja kesempatan itu tidak dilewatkan begitu saja oleh Langit. Ia pun berjanji akan memperbaiki foto tapi dengan syarat Inong harus membantunya mendekati dan mengorek cerita dari Keumala. 

Misi berhasil terutama saat seorang ibu yang dikenal Inong mendadak melahirkan di atas kapal. Inong dan Keumala membantunya, dan saat Langit datang Keumala yang sejak awal tidak tertari dengan foto-foto Langit yang menurutnya tidak bernyawa karena nihil manusia akhirnya meninta Langit mengabadikan keceriaan di kapal tersebut menyambut bayi kecil sang ibu. Langit yang semula hanya memotret 'sepi' kini kembali menghadirkan 'nyawa' dalam karyanya. Mereka mulai dekat meskipun langit masih menyimpan rasa penasaran akan penyeakit yang diderita Keumala. Memang, Keumala terlihat 'sakit' dalam arti sebenarnya. Sangat kesakitan.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, akhirnya keduanya harus terpisah karena Keumala harus melanjutkan perjalanannya ke Aceh kemudian menyeberang ke kampung halamannya Sabang karena ia yang penulis novel terkenal ditugaskan untuk menulis tentang pulau tersebut. 

Kemudian Setting kedua pun hadir. Kita seperti ikut merasakan liburan kala melihat berbagai adegan selanjutnya yang meminjam lekuk-lekuk eksotis Pulau Weh atau Sabang yang terletak di ujung paling barat Sumatera, tepatnya di Aceh tersebut. Kombinasi kelihaian pengambilan gambar dengan pemandangan pantai Sabang yang memang tiada duanya membuat mata penonton akan dimanjakan dan sedikit menutupi kekurangan-kekurangan dari tiap adegan disana-sini. Keumala kembali kerumahnya, kerumah ibu angkatnya yang diperankan Cut Yanti. Hubungan mereka tidak terlalu harmonis, Keumala merasa risih dengan perhatian yang diberikan oleh sang ibu yang cemas akan keanehan Keumala. Berulang kali ia menanyakan mengenai Keanehan tersebut, namun Keumala membantah kalau dirinya sakit.

Akhirnya Keumala memilih untuk pindah ke sebuah cottage di pinggir laut, ia mengasingkan dirinya sendiri. Menanggung seorang diri penyakit retinitis pigmentosa atau pigmentasi retina yang dideritanya. Kian lama kondisinya kian memburuk hingga akhirnya Keumala positif buta. Mungkin bisa dibayangkan bagaimana sulitnya kehidupan Keumala saat itu, ia didera depresi yang hebat, adegan ini cukup mampu menggambarkan betapa kebutaan menjadi cobaan yang amat berat bagi seorang penulis. Sang ibu dengan sabar mengantarkan makanan untuknya, namun Keumala terus sendiri.

  • Keromantisan yang ranum
Sampai beberapa saat kemudian, Langit memutuskan untuk menyusul Keumala ke sabang. Cinta menyeretnya ke dalam sebuah realita mendapati orang yang dicintainya dengan begitu mudah diatas kapal kini telah menjadi seorang yang cacat. Dibantu Inong, Langit memperkenalkan dirinya sebagai seorang peneliti bernama Arthur yang bisu. Disinilah film ini mampu menyelipkan kekuatan romantismenya, yaitu cara dimana Arthur perlahan mendekati Keumala, ia mengganti parfumenya agar tidak dikenali, lebih jauh ia memilih untuk tidak berbicara samasekali. Yang unik, dalam perjalanannya mereka berkomunikasi dengan cara arthur mengambil telapak tangan Keumala dan menuliskan sesuatu yang ingin ia sampaikan, begitulah, cukup membuat termehek-mehek.  Melewati hari-harinya dengan Arthur membuat Keumala perlahan melupakan frustasinya. Ia sangat percaya dengan sosok yang dirasakan sangat bersahabat tersebut. Sampai akhirnya ia menceritakan betapa ia mencintai Langit.Disini aku pribadi sangat merasakan bagaimana perasaan Langit yang saat itu mendengar sendiri bahwa Keumala mencintainya namun ia harus bungkan dalam kebisuannya menjadi Arthur, serasa ingin teriak.

Klimaks muncul pada akhirnya  Arthur ingin mengungkap jati  dirinya.Ia memakai parfumenya yang dulu hingga Keumala begitu murka, ia merasa tertipu. Disini format adegan kurang mengena, karena diwakili dengan jatuhnya Keumala ke laut dan meronta karena marah saat Langit menyelamatkannya. Pada akhirnya Keumala meminta Langit untuk pergi dan Keumala kembali kerumah.

Ending cerita lumayan mudah ditebak, cerita cinta sederhana itu pun berakhir dengan kembalinya Langit untuk menjemput cintanya. Ia kembali kepada gadis yang memintanya pergi, dan such a happily ever after :p

Secara keseluruhan film ini tidak bisa dikatakann kuat dari segi cerita, dialog-dialognya meskipun puitis juga kurang mampu dilakonkan dengan maksimal oleh kedua pemeran utama. Sangat berbeda ketika kita melihat adega Cinta dan Rangga dalam A2DC yang meskipun sama-sama puitis namun membaur hingga tidak terkesan efek berlebihan. Mungkin karena Nadia Vega selama ini juga bukan dikenal sebagai pemeran melankolis dan Chemistry yang belum terlalu total terbangun. 
 
Cerita justru lebih terasa mengalir saat tidak ada dialog-dialog puitis antar keduanya. Bisa dikatakan Keumala dan Arthur adalah suatu adegan keindahan, namun Keumala dan Langit sedikit dipaksakan...
Disamping itu berbagai cerita pun terkesan dibiarkan sekedar mampir tanpa elaborasi yang lebih. Sosok Inong dengan fotonya yang rusak bahkan samasekali tidak dimunculkan di hari-hari Keumala dan Arthur bersama. Mungkin dunia sudah benar-benar milik mereka berdua. Bahkan tidak terlihat manusia lain yang berada di pantai tersebut, benar-benar sendu dan senyap. Hanya ada 3 komponen pokok dalam film ini, Keumala-Langit (Arthur) dan Pantai.
Namun salut untuk film ini yang aroma Indonesianya begitu kental. Karena yang pertama, ia berhasil mengekplor keindahan alam di Pulau terdepan Indonesia yaitu Sabang yang luput dari perhatian pemerintah dan wisatawan meskipun kerap kali dinyanyikan dalam lagu dari Sabang sampai Merauke. Entah ada ataupun tidak, pemerintah daerah agaknya berhasil menyelipkan promosi wilayah Nol Kilometer tersebut, terbukti dar banyaknya bahkan hampir sepenuhnya adegan mengekplor Sabang (bertolak belakang dengan film Delisa yang sangat sedikit mengambil scene di Aceh), selain itu sang Wakit Walikota bapak Islamuddin ternyata juga mengambil peran sebagai Dokter. Keindonesiaan lainnya adalah dialognya yang meskipun terkesan dipaksakan namun menggunakan Bahasa Indonesia yang baik tidak seperti kebanyakan film remaja yang beredar belakangan ini. Sukses terus perfilman dan pariwisata Indonesia. Mari menonton dan berkunjung ke sabang, Aku? sudah pernah donk..just like a secret heaven overthere..*kiss